Bagaimana Harus Berhadapan dengan Flashdisk
(atau: Bagaimana Terlupa Memformat Flashdisk Dapat Merusak Harimu)
Pernah mencoba memindahkan data penting dari satu komputer ke komputer lain melalui media simpan portabel, untuk kemudian tidak dapat mengaksesnya kembali? Pernah surfing Internet berjam-jam, mendownload banyak file yang total berukuran relatif besar dari belasan situs, memasukkannya ke dalam media simpan portabel, untuk kemudian mengetahui bahwa boot sectornya rusak dan tidak hanya satu, namun semua, file yang telah didownload harus dikorbankan? Saya beberapa kali mengalaminya, sejak zaman disket 5¼ inci berkapasitas 360KB hingga flashdisk dengan wilayah ukuran GB, dan sudah cukup bosan. Untuk tidak mengulangnya kembalilah, saya menuliskannya di sini: bagaimana cara mengantisipasi defek dalam media portabel yang kita gunakan tanpa harus waswas memasukkan file-file penting ke dalamnya. Rujukan pada flashdisk di sini tentunya karena media itulah yang tengah populer; namun cara-cara berikut ini lazim saya terapkan untuk media simpan apapun yang saya miliki.
Masukkan setiap file dalam arsip terkompresi. Tidak hanya cara ini dapat menekan ukuran file sehingga memperkecil kemungkinan kerusakan akibat kesalahan transfer, namun ia juga dapat memberitahu Anda apabila sebuah kerusakan file disebabkan oleh ketidakberesan flashdisk atau karena sebab lain. Bagaimana caranya? Dengan memanfaatkan informasi integritas data. Format file tertentu (MP3, MPEG, WMV, dst) seringkali tetap dapat dibuka meskipun bagian tertentu dari file tersebut telah rusak (ada perubahan/pengurangan byte), namun ada format file lain yang sama sekali tidak memperkenankan akses bila perubahan data terdeteksi, beberapa format kompresi data, misalnya.
Program kompresi biasanya mengambil “ID” dari file-file yang dikandung sebuah arsip (nilai kalkulasi fungsi hash, misalnya, atau dengan algoritma khusus seperti CRC-32) dan mengikutkan “ID” masing-masing file dalam arsip tersebut. Bila di masa mendatang file-file dalam arsip tersebut akan dibuka, program kompresi yang sama akan kembali mengambil “ID” dari file-file yang dihasilkan dan membandingkannya dengan informasi yang dimuat dalam arsip. Bila kedua nilai “ID” tidak sama, program kompresi akan memberi peringatan dan, untuk program tertentu, menolak membuka file yang “ID”nya telah berubah. Beberapa program kompresi menyediakan fasilitas perintah Test Archive untuk menguji integritas data dalam arsip tanpa benar-benar mendekompresikannya ke dalam harddisk. Dengan memanfaatkan fasilitas ini, Anda dapat benar-benar yakin bahwa file yang Anda download dari Internet atau salin dari komputer teman di luar kota saat berlibur tidak rusak karena mulai tidak normalnya flashdisk Anda.Jangan pernah memindahkan file dari harddisk ke dalam flashdisk: salin file tersebut, dan buat minimal satu cadangan. Bila sistem operasi menulis salah satu salinan file ke dalam area memori yang telah berkurang kemampuan retensi datanya, atau terjadi kesalahan transfer, file tersebut mungkin tidak akan dapat diakses lagi. Memiliki salinan kedua akan menghemat waktu Anda.
Jangan terus-menerus menggunakan flashdisk untuk transfer data berukuran besar, tanpa sesekali diformat ulang. Hal ini yang terjadi pada saya beberapa hari yang lalu dan memancing saya menuliskan daftar ini. Pada saat itu flashdisk tersebut telah digunakan untuk transfer data puluhan kali, saat tiba-tiba logical drive di dalamnya tidak dapat diakses. Sedikit panik karena besarnya data yang dimuat didalamnya, saya gunakan freeware PC Inspector File Recovery dari Convar untuk menyelamatkan data tersebut. Benar saja: Tabel alokasi file flashdisk tersebut telah rusak, membawa serta semua file di dalamnya. Dengan PCI File Recovery, saya pindahkan isi mentah flashdisk ke dalam harddisk. Beberapa file tidak dapat dipulihkan, termasuk dua buah salinan dari file-file yang sama, tapi karena setiap file memiliki tiga salinan, semua file yang saya inginkan akhirnya dapat ditransfer dengan selamat.
Bahkan saat semua salinan dari sebuah file telah rusak, bila point 1. digunakan, Anda seringkali tetap dapat memulihkan file tersebut secara utuh. Pagi tadi saya mendownload versi terbaru wxWidgets, file arsip berukuran +/- 15MB, untuk saya masukkan ke dalam flashdisk. Saat akan diambil kembali, satu direktori salinan hancur, dan dua salinan dari arsip tersebut dalam direktori-direktori lainnya juga corrupted. Sedikit ketar-ketir, saya coba ekstrak kedua arsip tersebut dan menggabungkan keduanya dalam satu direktori. Setelah membandingkan struktur direktori hasil ekstrak dengan struktur dalam arsip1, ternyata gabungan kedua arsip rusak tersebut menghasilkan struktur asli yang valid: File-file yang rusak dalam salah satu arsip, tergantikan oleh file-file yang sama dari arsip kedua; persentase overlap daftar file-file valid dari kedua arsip tersebut sangat besar, kecil kemungkinan ada data yang tidak dapat diselamatkan. Dengan cara sederhana ini, saya dapat mentransfer 50-600MB data dengan aman.Menggunakan perintah “Safely Remove Hardware” pada system tray MS-Windows dapat memperbesar kemungkinan data Anda tidak akan rusak. Dengannya, Anda dapat benar-benar yakin bahwa tidak ada aplikasi yang tengah mengakses sektor tertentu (file/direktori) dalam flashdisk. Tentu saja fasilitas ini tidak dapat sepenuhnya diandalkan: ada aplikasi yang mengunci akses pada sebuah direktori/file yang terakhir dibuka, meski file tersebut tidak lagi dibuka. Dalam keadaan tersebut, perintah “Safely Remove Hardware” akan memberitahu bahwa flashdisk tengah diakses dan belum dapat dilepas, bahkan saat tidak ada satupun aplikasi yang tengah menggunakan flashdisk.
Bila, setelah membaca semua saran di atas yang didasarkan pada pengalaman pribadi, Anda berkomentar “Itu sih, flashdiskmu saja yang jelek”, you've got a point there :-) Akhir-akhir ini memang lumayan banyak data yang rusak bila ditransfer menggunakan flashdisk tersebut. Tapi bukan berarti media simpan portabel lain atau dengan merk yang berbeda tidak lebih rentan daripada flashdisk saya! Dua tahun yang lalu, saya pernah menggunakan sebuah harddisk notebook baru sebagai flashdrive dengan bantuan konektor USB—E-IDE, tetap saja terkadang ada data yang rusak. Moral yang bisa diambil dari pengalaman ini, lagi-lagi,
Jangan menilai sebuah perangkat dari casing-nya.
Selain untuk buku dan sampulnya, prinsip ini juga berlaku untuk media simpan portabel. Di balik casing yang penuh gaya, siapa yang bisa tahu kualitas memori flash-nya, atau kualitas pengendali memori dalam CPU yang digunakan? Selalu berhati-hati, dan membiarkan sedikit redundansi dalam hal penyimpanan data, cepat atau lambat dapat memperlihatkan manfaatnya.
1Melihat struktur direktori dalam arsip rusak dapat dilakukan, selama kerusakan data bukan pada header (panjang header bervariasi untuk format kompresi berbeda). Satu lagi manfaat menyimpan data sebagai arsip: informasi atribut semua file dalam satu direktori [besar] terkumpul dalam satu wilayah kecil, alih-alih tersebar di seluruh ruang memori. Tambahkan dengan membuat beberapa salinan dari arsip tersebut, semakin kecil kemungkinan Anda tidak dapat memeriksa integritas file-file Anda!
All contents of this site are made by me,
Adhi Hargo, unless noted otherwise.
Seluruh halaman dalam situs ini dibuat oleh Adhi Hargo,
kecuali orangnya bilang sebaliknya.