WACOM Tablet in Dual-Monitor Ubuntu System
While I have a couple of monitors lying around, only recently do I play around with them, hooking an extra LCD monitor to my laptop. Though Ubuntu handles this arrangement without a hitch, a small problem is the mapping from graphic tablet to the screen. By default, full 8:5 tablet area will be mapped to the whole 32:9 (double widescreen) desktop, which skews cursor movement and makes sketching/painting difficult.
With a bit of reading manpages and trying out tools provided with Wacom driver, I found xsetwacom lets me get what I want: the usual 1:1 tablet-to-screen coordinate mapping in a multi-monitor GNU/Linux system. I haven't found any GUI-based application, though, so the following procedures are strictly terminal-bound.
Baca Lebih Lanjut
Mimpi yang Belum Padam
Hari ini setahun yang lalu, saya berangkat ke Jogja dengan sebuah keyakinan bahwa jika kita ingin mewujudkan impian diri sendiri, kita harus mampu mendukung perwujudan mimpi orang lain. Bahwa jika kita ingin menjadi besar, kita harus mau membantu orang lain untuk tumbuh besar bersama. Setahun kemudian, semua orang telah berproses lebih matang namun belum ada satupun impian yang berhasil saya bantu wujudkan. "Apa yang salah?" adalah satu pertanyaan utama di benak saya.
Baca Lebih Lanjut
Layanan Renderfarm NumpangRender
Sudah ada yang tahu layanan renderfarm berbasis Blender, namanya NumpangRender? Saya tengah mencobanya untuk proyek profesional pertama saya di bidang animasi, dan hasilnya cukup memuaskan. Tidak banyak yang dibutuhkan untuk memanfaatkan layanan ini, hanya beberapa komputer yang terhubung melalui jaringan, cara membagi file .blend ke masing-masing komputer "slave", dan cara komputer "master" mengendalikan dan memulai proses render pada setiap "slave".
Baca Lebih Lanjut
Dunia Open Source 3D, Dunia yang Ramah-Pengguna
(Berikut tulisan yang saya buat 18 September 2010 untuk sebuah majalah komputer, namun gagal terbit. Daripada teronggok terlupakan, saya terbitkan di sini saja.)
2011-02-11: Muat ulang, sekarang versi tersunting #1
2011-02-20: Terbit di Harian Jogja. Terima kasih pada Pak Dedy Hariyadi.
Sedikit latihan logika: menurut Anda aplikasi mana yang lebih ramah-pengguna, yang membatasi cara Anda berinteraksi dengannya, atau yang memperbolehkan Anda membongkar-pasang dan mengubah setiap komponennya bila Anda memerlukannya? Yang membatasi cara distribusi aplikasi tersebut, atau membiarkan Anda bebas menyebarkannya lewat medium dan cara apapun? Dunia software 3D baru-baru ini sedikit terusik dengan kasus Vernor v. Autodesk di Amerika, di mana sebuah perusahaan software berhasil menggugat seorang individu yang menjual kembali software buatannya melalui forum lelang online. Klaimnya: produk tersebut hanya dilisensikan penggunaannya, bukan dijual, dan lisensi tersebut tidak dapat ditransfer ke pihak lain.
Baca Lebih Lanjut